Pertunjukan Seni Tari Wura Bongi Monca, Mpa’a Gopa, dan Tapa Gala oleh Siswa Ekstrakurikuler Seni (Pojok Ekspresi) SMKN 2 Dompu

Tari Tradisional Dompu-Bima

Siswa SMK Negeri 2 Dompu yang tergabung dalam Pojok Ekspresi (Kelompok Ekstrakurikuler Seni) mempersembahkan 3 Pertunjukan dalam video ini, yaitu Tari Wura Bongi Monca, Mpa’a Gopa, dan Tapa Gala.

Tari Wura Bongi Monca merupakan salah satu jenis tarian tradisional khas masyarakat Dompu-Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam bahasa Bima, Wura berarti Menabur, Bongi berarti Beras, dan Monca berarti Kuning, sehingga dapat diartikan bahwa “Tari Wura Bongi Monca merupakan tarian Menabur Beras berwarna Kuning. Menurut pelambangan masyarakat Dompu-Bima, Beras kuning adalah lambang kesejahteraan, kejayaan, dan bermakna sebagai modal dalam kehidupan serta sebagai wujud rasa syukur atas pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Dompu-Bima kerap menyuguhkan tari Wura Bongi Monca ini ketika ada upacara adat dan perayaan-perayaan tertentu seperti hari jadi daerah, acara khitanan, serta hajatan khas lain yang serupa.

Tari wura bongi monca adalah sebuah tradisi atau adat Dompu-Bima yang berkembang pada masa kesultanan Abdul Khoir Sirajuddin yang memerintah pada tahun 1640 – 1682. Tari ini dengan segala lemah gemulai para penarinya dimaksdukan untuk menarik perhatian pendatang yang berkunjung ke Tanah Dompu-Bima.

Sedangkan Mpa’a Gopa merupakan permainan tradisional khas Dompu-Bima yang cara bermainnya sejenis dengan permainan Engklek pada umumnya. Mpa’a Gopa bisa dimainkan oleh semua gender baik anak laki-laki maupun perempuan. Mpa’a Gopa dimainkan oleh dua orang saja dan maksimal lima orang, sebab untuk memainkannya masing-masing harus menunggu giliran.

Cara bermainnya adalah dengan menggambar kotak-kotak di tanah. Para pemain biasanya menggunakan potongan genteng atau batu berbentuk gepeng yang dibentuk segi empat atau pun lingkaran dengan bentuk datar atau sebagai Leu (untuk dilemparkan ke setiap kotak pada saat giliran bermain). Pemain akan berjalan menggunakan 1 kaki dengan cara melompat-lompat bertahap ke tiap-tiap kotak yang digambar dan berkesempatan untuk menguasai satu kotak saat sudah selesai menjalani satu sesi permainan lengkap. Permainan akan terus diulang hingga semua kotak sudah dimiliki oleh pemain.

Terakhir adalah permainan Tapa Gala. Pemainan ini diadopsi dari permainan Gobak Sodor di daerah jawa. Dalam Mpa’a Tapa Gala, dua regu akan bergiliran menjadi regu yang bermain maupun yang berjaga.

Pada prinsipnya pemainan ini dimainkan oleh lima hingga enam orang tiap regu, tapa gala/malacis menggunakan arena berupa garis yang membentuk bidang kotak. Permainan ini biasanya dimainkan oleh usia saat Pendidikan Dasar sewaktu kecil. Seperti permainan pada umumnya, Tapa Gala juga sering dilombakan saat acara-acara adat masyarakat Dompu-Bima.

Leave a Reply